Makhluk Noctural


Hidup di malam hari itu menyenangkan. Seperti punya dunia sendiri. Ketika semuanya meredup, listrik mulai dipangkas, pintu dan jendela semua tertutup rapat adalah suatu kondisi yang benar2 menggugah imajinasi, mencegah untuk terpejam.

Suara jam dinding yang berdetak, mengiringi ritme otak yang semakin membuatnya terhentak. Ditambah dengan suara mesin refigerator yang monoton namun menyentak. Kadang stabil, kadang mengeluarkan buyi "cethek", menunjukkan bahwa dia masih eksis. Dipadu dengan melodi jangkrik yang seakan mereka berkata "Hey gadis, malam itu mengejutkan! Jangan kau biarkan kerak di otakmu menumpuk di saat2 produktif seperti ini!" Dan lalu sugesti jangkrik itu berhasil membuat kinerja otakku sekian kali lebih bersemangat.

Siapa bilang malam itu hening??? Betapa mereka tak bisa mencerna arti malam yang sebenarnya. Suara nafas orang2 yang sedang terlelap, teriakan burung hantu, gemericik kran bocor, beberapa serangga yang mengerat, semuanya itu sama sekali tak bisa mewakili kata hening.
Siapa bilang malam itu saatnya mellow, saatnya meratapi nasib, saatnya introspeksi??? Salah besar! Introspeksi tak hanya sebatas pada mengutuk diri sendiri di malam hari, melainkan terlebih pada bagaimana menyikapi malam sebagai media untuk lebih mengedepankan yang realistis.

Ah, sensasi malam......

Saat duduk di depan komputer dan angin perlahan perlahan berdesir masuk melewati celah pintu kamar lalu mencubiti tulang, yang seperti itu tak akan bisa diberikan oleh siapapun, tak akan bisa tercetak oleh apapun, kecuali malam...

Ketika sari2 makanan yang tercerna sore tadi telah menyisakan ampas, lambung kosong, sistem pencernaan menjadi joblessness... Lapar yang seperti itu beda dengan lapar di luar malam, lebih punya sense. Sense of noctural hungry.

Lalu,,,, saat dunia malam bangkit, memadukan suara2 yang keluar dari produk kecanggihan tekhnologi, kenaturalan alam dan suara2 komponen dunia lain, dimana kesemuanya itu teralun tanpa paksaan,, lossss.... sisi lain dariku menyambut antusias...

Semuanya menyatu sudah, melebur dalam elemen malam. Di situlah otakku mulai mengayuh, bibirku selalu tersenyum mengiringi kayuhannya, begitupun dengan mataku. Meski dia sedikit cacat, namun itu bukan merupakan suatu halangan bagi mataku untuk dapat mensinkronisasi diri dengan sistem organ yang lain. Dan setelah semuanya berhasil tergabung dalam sebuah formasi 'keren', satu per satu kreatifitas akan terhambur dari sumbernya. Like a waterfall, bahkan kadang2 sampai kuwalahan mengolahnya. Dan ketika partikel malam yang merasuk sistemku telah berhasil menghasilkan sebuah straight output........... Huahhhh.... SPEECHLESS!!! Benar2 puas.. dan tidurpun menjadi lebih bermakna....

Betapa tak ada yang lebih indah dari malam. 23.00-03.00, empat jam produktif yang sangat sayang dilewatkan hanya untuk merebah.

Cobalah kawan, sesekali kalian hidup di malam hari. Hanya butuh sedikit pemahaman. Setelah itu rasakan sensasinya. Bakalan sakau sampai pada batas waktu yang tak bisa ditentukan. Addicted!!!! Yakin!!!


*Dalam usahaku : Mengumpulkan simpatisan dunia malam, mencari teman begadang... Ahaha....

Emma Vixel

1 komentar:

Heru Sastro mengatakan...

andai kehidupan yang sesungguhnya jam 23.00 - 03.00 wib... aku akan mengikutimu...