Thoughts Of A Dying Atheis


Ketika itu jati diri yang skeptis melekat pada karakter personalnya. Koridor kehidupannya selalu dibatasi dengan hal-hal yang logis. Kehendaknya berlandaskan raionalitas tak berbatas. Perasaan hampir tak pernah ia gunakan sama sekali. Otaknya mendominasi hati, level intelektualitasnya tinggi, kecerdasan superior bukan merupakan hal yang asing bagi orang itu.

Ia tinggalkan yang imajiner, mengabaikan yang tak terjangkau oleh logika, atau lebih tepatnya selalu menyikapi segala hal dengan logika, bahkan pada hal yang sebenarnya tak mampu terpecahkan oleh logika sekalipun.

Urutan langkah hidupnya begitu sistematis. Yang dipikirkan sekarang adalah untuk sekarang dan masa depan, bukan untuk sekarang dan masa lalu. Atas dasar itu ia memilih untuk menghapus bersih-bersih latar belakangnya.

“Untuk apa sejarah? Toh aku berfikir untuk hari ini dan esok. Looping yang semacam di flowchart tidak ada dalam kamusku. Jadi jangan sekalipun mengaharapkan jawaban atas pertanyaan mengenai latar belakangku.” Ujarnya ketika pertanyaan ‘bagaimana anda di masa lalu’ terlontar untuk orang itu.

Rekan kerjanya tak hanya sebatas di tempat kerjanya saja. Orang itu adaptif, pandai menyesuaikan diri, pandai membangun relasi dan menciptakan korelasi akan beberapa hal yang sulit ditarik keterkaitannya oleh orang-orang biasa. Dia bukan orang terasing, bukan orang yang tak terjangkau.

TUHAN.

Kata itu terbersit pada logikanya yang sedang meraja.

“Ah, bukan merupakan sebuah momok. Atheis hanya istilah, begitupun dengan Tuhan.”
Rasionalnya kering, logikanya tidak sinkron dengan cara pandang yang mengharuskan memiliki pemikiran terbuka untuk mencapai keseimbangan di antaranya.
Sampai pada suatu saat ketika ia terbaring di bawah naungan malam.
Bisikan ngeri tergaung pada indera pendengarannya, terperangkap di bawah bantalnya yang terpenuhi rasional yang tak pernah basah. Ada keluhan ketika keringat tiba-tiba mengucur deras dalam keadaan terpejam. Dunianya terbentur, ia berada di dua alam, menyaksikan dirinya perlahan menjauh dari yang nyata.
Orang itu sadar dengan matanya yang tak berdaya, malaikat itu terlalu dekat dengannya.

“Apakah aku takut mati hingga ragaku bergetar hebat seperti ini?” orang itu berujar.
Dan malaikat itu menjawab, “Ya, kau takut mati. Dan kau sudah mati dalam keadaan tanpa pengakuan terhadap Tuhan.”


***

Sedikit fiksi yang terinspirasi dari Thoughts of A Dying Atheis nya Muse.
Sempat bingung ketika harus menterjemahkan karakter seorang yang atheis ini pada sequel kedua novelku. Ada tidak ya, orang yang menganut sebenar-benarnya paham atheis? Yang tidak mengakui adanya tuhan sepenuhnya, yang tidak pernah takut mati, yang tidak percaya surga dan neraka. Sekali lagi “paham” bukan “keadaan”, dimana mereka memilihnya bukan tanpa alasan dan tinjauan.

Emma Vixel

Tidak ada komentar: