Wisata Batik #1 : Batik Printing

Oke, saya tidak berhak berdiam diri tanpa menulis ketika segerombol agenda keliling-keliling bertubi-tubu menyerang saya.
“Ma, temenin kesini yuk. Ma, tak ajakin kesana yuk. Eh besok lagi ya.” Yah beginilah untungnya orang yang suka digaet kemana-mana. Haha…
Ceritanya, kemaren hari kalau ga salah tanggal 4 Maret (lumayan kelewat basi sih ya sebenernya) saya diajakin temen buat survey segala hal tentang batik buat kelangsungan hidup skripsinya. Karena mumpung ada kesempatan dan mumpung lagi liburan kuliah juga, saya jabanin deh. Menujulah kami ke Kampung Batik Laweyan. Tujuan pertama adalah usaha batik yang dipunyai oleh saudaranya temennya temen saya. Berhubung saya rada-rada bego waktu itu karena kepanasan, saya jadi lupa nanyain brand-nya apa. Haha.. Itu yang bikin saya nyesel sampai sekarang. Padahal disana diperlihatkan segala proses tentang batik printing. Mulai dari proses pewarnaan mori, printingnya sendiri, cuci sampai pada tahap pemotongan.
Jadi ceritanya bikin batik printing itu begini….
Mulai dari pewarnaan mori. Mori yang awalnya putih bersih dikasih warna yang nantinya warna itu jadi warna dasar. Nah kalau udah diwarna tinggal dicetakin motif batik di atasnya. Prosesnya kayak gini nih…
Nah kalau udah dicetakin batik kayak di atas, dijemur dulu beberapa waktu. Kalau udah kain yang panjang itu dicelupin ke air buat ngilangin obat pewarnanya. Dan airnya itu musti panas biar bisa bener-bener ilang obatnya.
Itu ceritanya foto para Pakdhe yang lagi nyuci kain. Maaf gambarnya rada-rada annoying =)
Trus kalau udah dicuci bersih, diangkat deh. Selanjutnya kain itu dimasukin ke mesin penguap (biasanya dibilang steam) buat ngawetin warnanya biar ga cepet ilang.
Proses mau masukin ke mesin steam
Steam selesai dan jadilah batik printing yang siap dipasarkan. Batik printing ini biasanya banyak dipakai buat sarung bantal, sarung guling, sprei dan beberapa pakaian yang biasanya dijual dengan harga menengah ke bawah. Kemarin sempet ngobrolin juga tentang marketnya batik printing ini. Katanya musim ini sedang sepi, peminat batik lebih banyak tertarik ke batik tulis dan cap atau kombinasi.
“Kalau sekarang lagi sepi Mbak. Kalau ramai semuanya ini penuh (sambil menunjuk meja-meja panjang tempat printing). Kalau sepi kayak begini ya paling Cuma jalan barang 1-2 meja saja,” kata Bapak Baik Hati yang saya tidak tahu namanya.
Jadi kurang lebih seperti itu tadi proses pembuatan batik printing. Memang, batik printing ini terlihat gampang dibandingkan dengan batik cap bahkan batik tulis. Tapi tetap saja, kalau motifnya menarik dan penempatannya pas bisa bikin peminat batik tergandrung-gandrung karenanya. Masih ada beberapa lokasi wisata batik Laweyan lain yang bakalan saya update disini.
Salam batik, the spirit of art =)

Emma Vixel

Tidak ada komentar: