Konsep "Pengen Berguna Buat Dia"



Tentang teman saya yang ingin berguna buat (mantan) pacarnya, tapi jatohnya garing karena terlalu menganggap penting hal-hal yang nggak penting :D

“Bayangin Ma, tiap pagi lho itu aku masakin bekal buat dia,” aku teman saya dengan nada hopeless. “Tapi dia nggak sadar seberapa gede pengorbanannya.”
Siapa suruh? Ya nggak pemirsa? Nyinyir ah…

Pada jaman dahulu kala…. Setengah jam sebelum kuliah dimulai, teman saya masih sempat memasak nasi goreng untuk partner relationshipnya. Ingat ya, setengah jam itu belum termasuk perjalanan menuju kampus, mengantarkan makanan ke fakultas seberang, bonus menunggu si partner keluar sambil pencet-pencet hape nggak jelas karena sekali missed-call aja nggak mempan bikin tuh laki buru-buru nyamperin teman saya. Tentu saja, ajaib sekali kalo dia sampe nggak telat masuk kuliah. Dan itu nggak cuma sekali. Repetitive. Rutin.

Bicara masalah tuntutan, sebenarnya partner teman saya itu sama sekali nggak minta buat dibikinin sarapan dengan menu beda-beda setiap harinya plus bumbu hal-hal yang musti dikorbanin demi terciptanya itu makanan. Lalu, demi apa? Demi mewujudkan slogan ini “pengen berguna buat dia.” Eleuuhh… so sweat nggak sih? Iya dong, ampe keringatan gitu masaknya. Haha… nggak, maksud saya disini baik kok, nggak nyinyir.

Nah, setelah bergulat dengan serentetan aktivitas (bisa dibilang pengorbanan) itu, tentu saja teman saya menaruh harapan atas usahanya yang –menurutnya- nggak gampang, mengingat teman saya bukan tipe wanita yang jeli dengan dapur.

“Biar dia makin sayang. Pengorbananku kan nggak sedikit. Harus bangun pagi-pagi, nyiapin ini itu, pake acara telat ngampus. Simpati dong dia pasti, trus makin sayang deh…”
Sekali lagi, itu hanya EKSPEKTASI. Murni ekspektasi. Kenyatannya?

Kalau orang sedang sibuk dengan segala urusannya yang rumit dan almost ga ada jeda istirahat bahkan di hari libur sekalipun, apa iya dia sempet mikir panjang saat menerima kotak bekal makanan dari pacarnya? Mengingat manusia berlabel pria nggak bakal ambil pusing cuma masalah sekotak nasi. Dikasih, makasih. Nggak dikasih, nggak minta belas kasih. Apalagi itu bukan hal baru, udah rutin dilakukan. Ironisnya si teman saya itu menaruh harapan yang sama untuk setiap kotak bekal cintanya, setiap hari, setiap pagi.

Tapi bukannya sacrifice itu wujud dari keseriusan kita dalam menjalin hubungan ya? Kalo yang berkorban cuma satu pihak dan pihak lain nganggep itu hal biasa, nggak ada nilai juangnya sama sekali, itu namanya bukan pengorbanan tapi dikorbankan J *abaikan

Jadi sebenarnya, untuk memenuhi “pengen berguna buat dia”, bukan dengan pengorbanan nggak penting yang dipenting-pentingin, hal absurd yang dispesial-spesialin kayak gitu.

Apa? Hal absurd yang dispesial-spesialin? Ya kayak yang tadi itu, nggak usah dibekalin bisa kali sarapan sendiri. Nggak begitu butuh sekotak nasi dengan pengorbanan bertubi-tubi.

Atau kasus yang seperti ini. Partner kamu adalah maniak game, dan dia bilang ke kamu pengen banget punya game X. Kamu bela-belain cari itu master, tanya sana-sini, download gagal mulu, singgah dari satu warnet ke warnet lain ngga dapet juga, sampai keliling dunia naik kuda poni masih juga belum dapet. PADAHAL kenalan gamers partner kamu itu bejibun. Tinggal bilang “Minta master game X dong” beres segala urusan. 

Sacrifice banget nggak sih? Iya, tapi GARING. Sama kayak kasus sekotak bekal cinta tadi. Mau makan ya udah makan aja, nggak dimasakin juga nggak bakal ngaruh sama masa depan. #loh. Lagian nggak jaminan juga itu bekal dimakan sendiri. Bisa jadi dibagi-bagiin temen dengan alasan ngga enak makan sendiri. Who knows?

Nah, lain kali kalo bermaksud pengen bantu-bantu partner, pengen selalu ada buat partner, atau apalah istilahnya, sebaiknya tanya-tanya dulu. Alangkah lebih baik menjalin komunikasi secara kasat mata daripada telepati. Kecuali kalau ladies sekalian berpartner ahli baca pikiran.

Jadi gimana? Konsep “pengen berguna buat dia” yang sebenarnya simple jadi keliatan rumit kan karena ulah para gegadis sendiri yang ke-GR-an dan over-hoping kan?


NB : Status teman saya ini saat bercerita : sudah sadar betapa dalam menjalin relationship itu cinta saja tidak cukup


Emma Vixel

Tidak ada komentar: