Spoiler for VERTICAL



Ini sudah hampir 3 tahun setelah The Otherspace terbit! Gilak, 3 tahun men! 36 bulan!
Dan selama 3 tahun itu saya selalu dihantui dengan berbagai pertanyaan seputar tagihan sequel dan pernyataan penasaran entah sudah berapa milyar kali *alahlebay.. Dan saya selalu saja memberikan jawaban yang sama dan peres dan basi untuk setiap pertanyaannya.
“Secepatnya….” Menang banget pokoknya kalau udah jawab begitu. Haha…
But promise is a promise. Mau seberapa lama, tetep harus ditepati. Dan di sela-sela hectic nya schedule (schedule nonton film maksudnya :D) disertai jungkir balik salto bungee jumping struggling mati-matian, akhirnya selesailah segala tetek bengek terkait editing, layout, design buat novel ini, dibantu nulisbuku dalam proses penerbitannya.

So yeah, this is it, VERTICAL : another piece of The Otherspace

Nah biar makin penasaran, cek spoiler berikut

CLAP! Cahaya merah berpendar sesaat, persis seperti cahaya dalam ruangan cetak roll film negative, namun yang ini kelihatan lebih pekat.
“Apa itu?” Gilda spontan bertanya. Shira tak berbasa-basi, langsung menghambur ke dalam ruangannya diikuti oleh Gilda.
Shira seketika mengerutkan dahinya, mendapati kertas-kertas gambarnya tadi hangus terbakar dengan bentuk lubang lingkaran sempurna di tengahnya.
“Energi apa ini?” Shira bertanya heran sambil membolak-balik kertas-kertas yang kesemuanya hampir hangus terbakar.
“Tak ada bekas api sama sekali disini.” Gilda membantu berpendapat sambil berjalan mengelilingi ruangan Shira.
“Coba kau ke bagian sistem.” Shira memerintah. Bagian sistem adalah ruangan sebagai pusat kerja monitoring digital mereka, yang mayoritas kendalinya dipegang oleh Gilda. Ia kemudian bergegas menuju ruangan sistem dengan membawa satu sample kertas yang terbakar tadi.
Gilda dengan cekatan mengorek habis informasi yang harus dia temukan dari kejadian aneh barusan. Dia ambil kursi kerjanya, duduk menghadap monitor flat dan mengetikkan beberapa kode biner yang telah dia buat melalui proses dekripsi[1] sehingga dapat diterjemahkan dalam bahasa keyboard.


“Shira punya keterkaitan kuat denganku. Ia adikku. Kami berasal dari satu ayah dari dua dimensi, dari universe yang berbeda. Aku adalah anak dari ayahku di universe berjudul bumi. Sedangkan Shira juga anak ayahku, ayahku yang berasal dari universe yang lain, entah apa itu namanya.”
 “Kau tidak sedang bercanda kan? Parallel universe itu rumit sobat, tidak semudah itu mencapai keterkaitan yang tepat.”
“Aku tidak bermaksud mencari atau membangun sebuah keterkaitan. Yang aku katakan  realita. Ini berlaku jika dan hanya jika kau percaya. Dan aku juga tidak memaksamu untuk percaya. Aku hanya mencoba menceritakan tentangku yang seperti ini kepada orang yang mengaku terlibat jauh dengan pembahasan parallel universe. Itu saja, tidak lebih.”
“Oke, oke. Maaf jika sedikit menyinggungmu. Lalu sekarang ayahmu? Ayah Shira?”
“Ayahku menghilang sejak 12 tahun yang lalu, dan terakhir ditemukan dalam keadaan tak bernyawa karena sempat terganggu jiwanya.”
“Aku pernah membaca sebuah artikel tentang orang yang berada di dimensi yang berbeda. Ketika seseorang di suatu dimensi mati, maka matilah pula orang yang sama yang berada di dimensi lain dalam waktu yang bersamaan dan dengan cara masing-masing yang berbeda-beda. Jadi kemungkinan ayah Shira pun juga mengalami hal yang sama dengan ayahmu karena pada dasarnya mereka terbentuk dari tanah yang sama hanya keberadaannya saja yang berbeda.”


Mereka seperti berada pada sebuah kotak kaca berjelaga, terbang melayang-layang dalam pekat di antara benda-benda angkasa raya. Seperti bertransmigrasi ke planet lain dengan transportasi unik semacam pesawat terbang hampa udara. Minim fasilitas, tanpa jaminan keselamatan, tanpa pilot, tanpa bahan bakar dan kesemuanya terjadi secara alami. Mengenai pramugari beserta awaknya tak ada yang peduli. Seperti menumpang pesawat antariksa kiriman Naza ke Pluto, New Horizon, yang sama sekali tak berawak.
Mereka melintas tanpa sadar, di bawah himpitan dan tekanan atmosfer tak bernama yang menghantarkan mereka pada tujuan yang tak jelas. Terpasung dalam kehampaan ruang angkasa. Otak mereka mati seperti sedang mengikuti program brainwashing. Keberadaan mereka yang asing di antara benda-benda di angkasa menjadikan mereka terasa terkucilkan dan aneh. Jika saja benda-benda asing itu punya mata, mereka pasti akan melirik dan bahkan mengikuti setiap gerak kotak kaca berjelaga itu.
Darah mereka seperti berhenti mengalir, detakan jantung melemah dan hampir berhenti, urat nadi seperti terputus, lidah kelu tak berujar, idealisme terbungkus rapat, open minded tidak berlaku disini. Bahkan teori serumit dan seaktual apapun tak mampu mereka jadikan pendukung analisa. Semuanya hanya nampak ‘seperti’, nampak mati namun sebenarnya hidup.


Buat yang belum baca The Otherspace, jangan khawatir bakalan ga ngerti jalan ceritanya. Selain ada prolog, pas waktu nulisnya udah dipertimbangin banget biar story line nya independen, no flash back, jadi bisa dinikmati secara terpisah.

Well then, kamu bisa intip sampelnya disini http://nulisbuku.com/books/view/vertical
Terus cara ordernya tinggal email nama, alamat, judul buku ke admin@nulisbuku.com lalu tunggu reply.

Happy reading...


[1] Proses penterjemahan kode binary

Emma Vixel

2 komentar:

my pages mengatakan...

mantap maa

my pages mengatakan...

mantap ma