Love, Terms and Conditions


Source: Faith's Screen Capture
Sore kemarin aku menganggap hujan sebagai sesuatu yang menyebalkan. Tak ada jas hujan, tak ada payung, tak ada jemputan, tak ada apapun yang bisa membebaskanku dari emperan toko menembus hujan lebat menuju rumah. Sore ini, aku masih menganggap hujan sebagai sesuatu yang menyebalkan. Oh, atau lebih tepatnya menyakitkan.

Hujan turun semakin rapat, namun lembut. Udara menjadi lebih dingin dari beberapa jam yang lalu. Seperti biasa, suasana hati yang tak karuan dan otak yang carut marut, selalu membawaku kepada sepasang kursi dan meja di balkon, meredamnya dengan kopi. Kali ini aku tidak memasukkan creamer atau susu ke dalam kopiku. Sedang ingin bersahabat dengan kopi hitam pekat pahit, siapa tahu aroma dan rasanya yang tajam bisa menjadi anestesi atas nyeri yang ada di ulu hati belakangan ini.


“Haaahh…” Aku benar-benar harus menghela napas berulang kali untuk melonggarkan segala ruang yang membuatku merasa sesak. Berada di antara orang-orang yang bahagia dengan pasangannya, jujur, membuatku kurang nyaman. Iri? Ya. Aku selalu iri dengan sebuah relationship yang mengalir tenang, yang disetujui oleh keadaan, yang mendapat restu dari seluruh jagad raya, yang bahkan seluruh komponen alam selalu berkonspirasi menciptakan kejadian-kejadian yang mendukung hubungan itu.

A relationship requires terms and conditions. That’s why banyak orang bilang “cinta aja nggak cukup”. Butuh pengakuan, butuh dukungan dari orang-orang sekitar, dan yang paling penting adalah butuh restu bumi. Ibarat handheld, cinta itu operating system, butuh software pendukung supaya gadget bisa maksimal. And so, what’s my problem? I don’t have…sorry, I mean we. We (me and partner) don’t have those kind of software. All we have is just operating system.

Di antara kami hanya ada cinta. Di antara kami, terms and conditions begitu sulit terpenuhi. Alam mengabaikan, berkonspirasi hanya untuk menghalangi. Hubungan kami ditolak, oleh angin, oleh air, oleh matahari, oleh ozon, oleh apapun, oleh siapapun, bahkan oleh undang-undang, hanya karena kami menyebut Yang Maha Transenden dalam pengucapan berbeda.

Aku menyesap kopiku yang masih panas. Sudah 2 sachet gula jagung tercampur, tapi masih saja terasa pahit. Entah, mungkin efek indra perasa yang kebal manis karena terlalu sering mengecap yang pahit.
Kemudian aku kembali menatap air yang berjatuhan menimpa atap tetangga. Ketika di udara terlihat indah, namun pecah ketika menghantam benda keras tempatnya mendarat. Itu sama sepertiku. Perlahan memori saat bersamanya tersusun sedikit demi sedikit, seperti puzzle, yang jika telah tersusun akan menjadi sempurna. Ketika bersamanya, segala apa yang aku lihat menjadi indah, rasanya benar-benar seperti sedang melambai-lambaikan tangan ke bumi dari langit ke tujuh sambil membawa bunga-bunga segar dan gulali-gulali cantik. Namun pecah begitu saja ketika keindahan itu terbentur kenyataan.

Oke, mataku sudah cukup hangat, sudah berkaca-kaca, sudah akan mengeluarkan air mata. Aku berdiri begitu saja, menghindari jatuhnya air mata. Aku berjalan menuju tepian balkon, menghirup dalam-dalam aroma hujan. Kulihat di bawah sana ada sepasang alas kaki yang terpisah satu sama lain. Mereka tak lagi sepasang. Bukan hanya sesederhana masalah jarak yang membuat mereka terpisah, melainkan serumit keadaan. They are just like us. Mereka adalah kami.

Dan tiba-tiba aku ingin mencabik-cabik suara sempurna gemericik air yang jatuh ke tanah, meremas-remas bunga-bunga yang terlihat cantik dan menyayat-nyayat dedaunan yang tampak lebih segar setelah tersiram air hujan. Aku benar-benar ingin mengacak-acak pemandangan indah di sekitar mereka karena itu menyakitkan. Semenyakitkan terlindas roda kuda besi berkali-kali.
See, seperti inilah konspirasi alam terhadap kami, menyodorkan sekeranjang kejadian pedih seakan ingin membuktikan kepada kami bahwa hubungan kami salah.

Percayalah, dua orang yang saling mencintai, tapi tidak bisa saling memiliki, lebih menyakitkan dari kisah unrequited love manapun

******************************




Jadi ceritanya, ini fiksi terinspirasi dari Faith (bisa cek DISINI) yang digarap oleh sutradara muda kece dan berbakat @baimrama :)
Tulisan ini adalah murni penafsiran dari sudut pandang saya, nggak tau apakah yang Baim coba sampaikan di Faith ini sama kayak tafsiran saya apa enggak. Yang jelas waktu nulis ini saya kebawa suasana jadi agak2 ikutan galau. LOL. Abaikan.

Sekian, semoga berkenan.


Emma Vixel

2 komentar:

Nungky Wijayanti mengatakan...

Emmaaaaaaaaaaaaa...
dalemmmmmm.dalemmmm... >,<
sukaaaaa...

Emma Vixel mengatakan...

@Nungky Wijayanti hehee.. thanks cantik :)