Piknik Ekstrim, Pok Tunggal Tengah Malam

Apakah kami penggemar tantangan? Suka hal-hal menegangkan seperti selfie sambil bungee jumping pakai tali jemuran? Atau suka mencoba-coba gaya bunuh diri seperti ini?

Semua bisa dibicarakan baik-baik, Mas.. | Aku capek, Dek...
Tidak... Kami hanya sekumpulan anak manusia yang haus sensasi. Tsssaahh... Lalu, bagaimana bisa postingan kali ini dikasih headline Piknik Ekstrim?

Sabtu, 7 Juni 2014 jam 19.00 kami berkumpul untuk bersiap berangkat ke Pantai Pok Tunggal. Iya jam 7 malem, ceritanya disana kami mau semedi -.-' Sambil menyeruput es teh dan ngeliatin anak-anak kecil jumpalitan salto kayang, kami menunggu mobil datang.
Jam 20.30 kami berangkat dari Solo, mampir sana-sini sekalian jemput teman yang lain di Solo Baru.

Jam 21.00 kami meluncur dari Solo Baru. Menuju Pok Tunggal? Tidak... Menuju Watu Kelir dulu.
Ada satu teman lagi yang harus dijemput disana. Namanya Joe. Ceritanya dia anak band, dan hari itu dia ada jadwal manggung di Salatiga. Info terakhir yang kami dapet, Joe balik dari Salatiga sekitar jam 19.00, tapi karena acara yang molor parah, jam 22.15 dia masih di Salatiga.

Atas nama pertemanan yang bagai merpatisetiasampaimatitakpernahingkarjanji, kami menunggu Joe sampai dia pulang. Kami tidak bosan menunggu, karena di rumah Joe ada banyak sekali hiburan, seperti tong setan, komidi putar, bom-bom car dan kincir angin. Ngga gitu juga kalik. 

Jadi di rumah Joe ini rame, ada warnet, photo studio dan angkringan juga, sekaligus basecamp grup band punk cool love peace and gahol, Vitamin C.
Ibunya si Joe ini sangat ramah. Setibanya kami di rumahnya langsung disambut dengan gegap gempita dan beliau langsung menguwel-uwel si Thomz :D Berikut suasana menunggu di rumah Joe.

angkringan kayu cawas watu kelir
Judul angkringannya si Joe
Angkringan yang tadinya udah tutup, dibuka lagi sama Ibuk
Mungkin mereka lelah...
Detik demi detik telah kami lalui, gorengan demi gorengan telah kami lahap, bergelas-gelas bekas es teh tergeletak di atas angkringan. Akhirnyaaaa..... Minggu, 8 Juni 2014 jam 01.00 si Joe menampakkan batang hidungnya. Dengan perasaan lega, kami langsung berhambur menghampiri dan memeluk Joe sambil nangis sesenggukan. Oke ini fiktif. Dan lebay.

Jam 01.15 cusss lah kami ke Pok Tunggal. Tak lupa kami mengabari Pak Sakino yang sejak tadi memantau perjalanan kami. Pak Sakino ini adalah anak pantai :D Warga sekitar Pok Tunggal yang saya mintai tolong untuk menyiapkan tenda. Beliau ini super sabar menunggui kami sejak jam 7 malam sampai dini hari kami berangkat. Kami nggak ngerti apa jadinya kami tanpa Pak Sakino :D You're our savior, Pak.. Mumumumu...

Baiklah, perjalanan kali ini nggak ada lucu-lucuan, nggak ada becanda-becandaan, no kidding. Tegang. Dini hari susur hutan, di jalanan nggak ada kendaraan apapun kecuali kami dan sinyalpun timbul tenggelam. Ditambah lagi lampu mobil yang tiba-tiba padam, spontan lah saya menyebut nama Allah (kalo lagi begini aja nyadar). Dan kampretnya, lampu mobil yang tiba-tiba padam tadi bukan karena teknis, tapi karena ulah tangan jahil pengendali setir, Adit si bocah tua nakal. Seriusan, detak jantung langsung meningkat 2.565.362 kali lipat, panik dan keringetan parah!
Jalan suram menuju Pok Tunggal
Jam 02.20, kami sudah sampai di Pok Tunggal, bisa dibayangkan betapa rock n roll nya si Adit nyetir. God bless us! Sampai disana Pak Sakino sudah stand by dengan tendanya yang gagah. Tap tap tap, kami langsung bergumul di tenda, istirahat sebentar, lalu memulai ritual.
Menyiapkan properti
Foto sama kembang api
Foto sama laut
Foto sama bintang, harus nahan ga gerak 25 detik. Niat.
Setelah subuh, kami semua tepaaarrr... Tenda lain sudah bangun dan senam-senam, kami masih ngorok :D Meskipun mata beratnya minta ampun, sayang kalau melewatkan pagi di pantai. Akhirnya kami bangun dengan masih hangover dan....ritual lagi :D
Ombak kecil
Ombak besar
Orang kecil dan ombak besar
Orang besar dan ombak kecil
Full team (kiri ke kanan): Joe, Thomz, Emma, Flo, Redi, Lia, Adit
Puas sepagian di pantai, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Purba Nglanggeran yang kata si Thomz adalah gunungnya Sun Go Kong (???)

Sekian cerita dari kami. See ya in the next trip. Semoga nggak suram lagi :)

Emma Vixel

Tidak ada komentar: