Jalan-Jalan Murah : Solo - Kepulauan Seribu


Berawal dari obrolan saya dan Tika di pertengahan Oktober mengenai Kepulauan Seribu yang paket wisatanya murah meriah cuma 300ribuan udah dapet fasilitas komplit, kami berniat mengeksekusinya. Awalnya mau ikut open trip, cuman kok ya masih ragu-ragu karena kami ngga ada pengalaman trip bareng stranger. Jadilah kami bikin target, ngumpulin 10 temen buat diajakin trip bareng-bareng.
Hari demi hari kami lewati dengan lobi sana-sini, prospek banyak orang, dan akhirnya seminggu setelahnya semuanya kelar. 10 orang terkumpul, 20 Oktober 2014 segala macam urusan DP agen dan booking tiket kelar. Tinggal menunggu hari H, dan here we go, kami bersepuluh (Saya, Tika, Iqun, Flow, Redi, Adit, Lia, Okta, Mr and Mrs. Endy) siap menjelajah Pulau Tidung.


Jumat, 7 November 2014
Jam 16.30 kami berkumpul di Stasiun Jebres. Kereta yang sedianya berangkat jam 16.54, telat 30 menit. Jam 17.30 kereta baru jalan. Namanya juga kereta ekonomi, kami memaklumi semua kekurangan yang ada. Mulai dari delay, berhenti lama nungguin eksekutif lewat sampai toilet yang super jorok. Kami menerima apa adanya. Tuh, kereta aja aku terima apa adanya, apalagi kamuuu. Oke ini basi.

Sabtu, 8 November 2014
Di tiket tertulis kereta tiba jam 01.30. Namun kenyataannya, jam 03.00 kami baru menginjakkan kaki di Stasiun Pasar Senen. Kasunyatan ncen paitSaudaranya si Flo, Mas Aris dan Mas Aji, yang bersedia jemput kami, sudah standby di depan stasiun. Tap tap tap kami langsung cusss ke Muara Angke. Kira-kira 45 menit perjalanan Senen – Angke, dengan traffic yang sepiiiii gilak.
Jam 04.00 kami tiba di meeting point, Pom Bensin Mura Angke yang tersohor itu. Sembari menunggu tour guide kami, Mas Fuad, kami duduk-duduk di emperan toko, selonjor-selonjor, jajan-jajan dan foto-foto!

Pom Bensin Muara Angke
Di depan toko, mirip gembel. GGS. Gembel gembel semerbak
Jam 05.00 kami jalan menuju kapal, melewati gang becek, dan aroma yang….sedapnyyeeee…. :/ Di kapal belum ada orang kecuali kami, ABK dan 3 penumpang lain. Untuk menghindari mabok laut, kami memilih kabin paling atas. Ceileh, kabin… Disini, kami menunggu lagi, dan delay lagi. Kapal yang dijadwalkan jam 7.00 berangkat, jam 8.00 baru jalan. Kami sih santai, meskipun banyak penumpang yang mengeluh, banyak couple yang memadu cinta di sekitar kami (jonesdetected), banyak orang-orang ngobrol dengan bahasa yang nggak kami ngerti. Kan di pantai, jadinya kami santai. Kalau udah di pulau, kami juga selau (???).
Oke kembali ke perjalanan. Durasi nyebrang kira-kira 2,5 jam. Kebetulan saya duduk di pinggir, bisa liat laut lepas. All I see is water, dan itu menakjubkan!

Jakarta dari perairan
Fotoinnya sambil berdoa
Jam 10.30, finally, Tidung di depan mata! Turun kapal, sudah disiapkan sepeda mini buat jalan ke penginapan. Yak, jadi moda transportasi kami disini adalah sepeda. Ada sih sewa becak motor, tapi nggak seru ah, kayak nenek-nenek :D Kira-kira 10 menit kami bersepeda dari dermaga ke penginapan. Welcome drink yang udah siap, langsung kami sikat habis. Welcome drink nya enak loh, campuran arak sama Heineken. LOL. Makan siang juga udah siap, nasi, sayur asem, ikan, ayam, sambel, buah, komplit dan enak.

Jam 13.30 jadwal snorkeling. Kami sudah rapi kembali, cantik ganteng bersih wangi, udah kayak mau ngemall. Padahal segala macem kecakepan, kulit cerah, badan bersih apalagi bau wangi, akan sirna seketika dihapuskan air laut dan terik matahari dalam hitungan menit. Trust me! Ini bukan magic!
Siap item
Kami bersepeda dari penginapan menuju bersandarnya kapal snorkeling, dermaga cinta. Di sebelah dermaga cinta ini, ada jembatan cinta. Yang masih jadi pertanyaan sampai sekarang adalah, kenapa semuanya dinamakan cinta? Apa pulau ini penuh cinta? Banyak cupid? Atau banyak orang bercinta? Di sebelah mana orang bercintanya? Abaikan.
Lama di kapal, semakin jauh dari dermaga, di tengah laut, cuma kapal kecil, kami mulai cemas, mau dibawa kemana kami sebenarnya, nggak nyampe2. Istana bawah laut? Bikini bottom? Rumah Sandy? Ohooo… ternyata di spot snorkeling sudah banyak orang-orang yang juga pada snorkelingan. Maafkan kami yang suudzon ini ya Mas :D

Ngeliat hamparan air laut sebegini luasnya saya jadi keder, nyali menciut, mau nyebur hayub-hayuben. Dengan segenap kekuatan yang ada akhirnya saya nyemplung dan langsung dikerjain sama cecunguk2 yang udah turun duluan, ditarik kesana, dijorokin kesini, digelempangin kesana, ditambah lagi si Tika yang pegangan pelampung saya kenceng banget dan ngga mau lepas. Makin kederlah saya. Nyoba nenangin diri sendiri dan nenangin si Tika yang udah jerit-jerit kayak badak mau beranak, itu ngga gampang. Beneran. 
Saya sedang dibuli Tika (Photo by Lia)
Beberapa menit kemudian saya udah kalem, dan Tika juga udah diem, mulailah saya snorkelingan. Ini kali pertamanya saya nyobain snorkeling. Berkali-kali keselek dan mata kemasukan air, tapi itu ga menyurutkan niat saya untuk ngeliatin dasar laut sana. Dan memang, keren!!! Cuma sayangnya ga bisa dapet foto bagus karena ga berani lepas pelampung dan nyelem ke dalem. Gapapa sih, ntar bisalah dicoba lagi ke Karimunjawa. Ahaha…
Safety riding (pake pelampung)
Underwater (Photo by Mas Mudi)
Yang ngga nyampe ke dasar (Photo by Mas Mudi lagi)
Berhasil gosong
Kenyang minum air laut, kami kembali ke dermaga cinta, naik sepeda lagi balik ke homestay, bilas-bilas, dan kembali lagi bersepeda menuju jembatan cinta. Maksud hati hunting sunset, apa daya langit mendung. Di tengah-tengah ritual foto-foto kami, tiba-tiba Mas Mudi (partnernya Mas Fuad) dateng dan nyuruh kami buru-buru balik karena kemungkinan bakalan hujan. Saya agak ragu, ini kenapa lagi asik foto disuruh balik sih, galak banget masnya, ngga ngerti orang lagi seneng.


Tidung mendung luar biasa (Photo by Iqun)
Dan benar saja, mendadak angin jadi kenceng banget, pas kami sepedaan rasanya berat, angin udah kayak mengobrak-abrik seluruh pulau. Pengunjung berhamburan kebut-kebutan, barang-barang orang jualan jatuh kemana-mana, like a real disaster. Sampai di homestay kami semua menghela nafas dan lega, meskipun ngos-ngosan. Dan sejak saat itu saya mempercayai Mas Mudi sebagai peramal cuaca (???)

Jam 19.00, BBQ time… Kami udah rapi jali lagi. Keadaan pulau udah kembali kondusif, udah ngga ada lagi angin-angin gede. Mas Mudi bawain ikan tongkol dan cumi asap buat BBQan. Kami pikir bumbu yang dipake asli bumbu BBQ. Ngga taunya cuma kecap sama cabe. Jadilah dia bahan bully-an Ibu-Ibu.
“Harusnya ini dikasih irisan bawang merah mas”
“Ho’o iki kudune dikeki brambang. Mudeng brambang pora? Trus dikek’i bumbu ulegan.”
“Gini doang mah ga enak mas.”
“Wis kui tongkole sesuk oseng-osengen wae Mas, diirisi Lombok ijo, kecap, sing pedes, dinggo sarapan,”
Dan kemudian Mas Mudi yang ngga bisa Bahasa Jawa mulai berkeringat dingin dan celingukan ngga jelas. Hahaha….
Kak Mudi in action
Minggu, 9 November 2014
Hoaaahhmm…. Jam 5.00 saya dan beberapa temen bangun buat sepedaan keliling pulau. Beberapa lainnya memilih untuk tidur di homestay. Mereka kecapekan karena nggak bakoh, kurang asupan semen. Saya, Tika, Iqun dan Lia sepedaan menuju jembatan cinta (lagi), penasaran dengan Pulau Tidung Kecil. Berjalanlah kami menyusuri jembatan. Dari Tidung Besar ke Tidung Kecil, dan tentu, sambil groufie. Oh ya, menurut informasi yang saya dapat, jarak Tidung Besar ke Tidung Kecil adalah 2,5 KM, so we’re totally fabulous! :D

Tidung Besar (back)
Tidung Kecil (back)
Available *uhuk*

Sepedaan di tengah jalan
Parkir sepeda di Jembatan Cinta
Jam 09.00 kami cek out dari homestay, bersepeda lagi menuju dermaga awal. Kami menunggu kapal kedua datang. Kira-kira jam 10.30, kapal datang dan siap berangkat meninggalkan Tidung.
Say good bye to Tidung. See you in my honeymoon :D

Jam 12.30 kapal kami sampai di pelabuhan. Beda dengan pelabuhan pada waktu kami berangkat, yang ini lebih bersih, lebih luas, lebih rapih. Kata Mas Fuad pelabuhan yang beneran ya yang ini, yang kemaren itu dermaga buat nelayan. Nah, karena mobil jemputan standby nya di Pom Bensin yang tersohor itu, maka kami harus naik angkutan umum semacem motor Tossa yang udah dimodifikasi jadi ojek yang bisa muat banyak penumpang.

Jam 13.30 kami meninggalkan Muara Angke, menuju rumah Mas Aris. Disana kami dijamu soto yang suegernya luar biasa. *nulis sambil ngebayangin, kemudian ngiler*. Amazingnya, soto itu buatan Mas Aris sendiri. Hebat!
Sudah kenyang, capek hilang, Jam 16.30 kami berangkat menuju Kota Tua, ditemenin Mas Aji. Sayangnya Kotu saat itu lagi pas rame banget, ada festival apaan ngga ngerti, crowded mampus.


Kayak pasar
Jalan kesana kemari, kemudian kami mengantarkan Adit, Lia dan Okta ke Stasiun Gambir. Mereka balik duluan karena Senin nya Adit ga bisa cuti, meskipun pada akhirnya dia nggak masuk juga sih. Hahaa.. Bocahgemblung.
Kereta kami berangkat jam 22.30. Sambil menunggu, kami jalan dulu ke Monas. Ngapain? Kami manjat disana. Iya, manjat Monas. Serius!

Senin, 10 November 2014
Selamat hari pahlawan, kami masih di jalan… Dari balik jendela kereta saya melihat orang-orang memulai aktifitasnya. Sekolah, bekerja, berdagang, pemandangan yang biasa, namun menjadi luar biasa karena dilihat dari jendela kereta, di hari Senin pula.

Jam 7.00 kereta sampai di Stasiun Tugu. Istirahat sebentar, lalu lanjut naik becak keliling Malioboro yang masih sepi. Sepi dan mendung. Di cuaca seperti ini, spending time with him will be great sebenernya. Tapi sayang… :D
Kelar becak-becakan dan sarapan, kami kembali ke stasiun. Dengan kereta Prameks kami kembali ke Solo
Jam 11.30. Hi Solo, we’re back with the new hope!


Informasi tambahan
Total biaya per orang IDR 500K, include :
  • Tiket kereta Solo-Jakarta dan Jakarta-Jogja-Solo
  • Paket Wisata @ 280K, dengan fasilitas : Kapal Feri Muara Angke – Tidung (PP), Penginapan AC, Makan 3x, Sepeda, Alat Snorkeling, Kapal Snorkeling, Guides, Bonus BBQ, Welcome drink, Kamera underwater, Asuransi jasa raharja (Info paket : www.rajawisatamurah.com)
  • Transport dari Senen – Angke dan Angke-Kotu-Gambir-Senen
  • Ojek tossa Pelabuhan – Pom bensin
  • Makan di luar paket wisata
Homestay yang kami tempati
View samping homestay + spot BBQ
Kalau mau lebih irit bisa pangkas di bagian jalan-jalan di Kotu dan Jogja. Irit transport dan makan di luar paket wisata. Kalau keduanya dipangkas, biaya kira-kira bisa less 100rb.

Jadi gimana? Ada yang mau gabung dengan kami di trip murah selanjutnya? :)

Emma Vixel

Tidak ada komentar: