Butterflies in My Tummy


Dulu waktu SD, saya diajarkan menghafal rentang musim di Indonesia dengan akronim POM dan KAS. Penghujan Oktober – Maret, Kemarau April – September. Saya masih hafal betul, bahkan sampai rentang itu sudah tidak berlaku lagi.

Mei 2015, dan hujan masih saja menjadi headline. Seperti hari ini, timeline orang-orang sekota penuh dengan pembahasan hujan, sejak pagi. Gerimis, deras, gerimis, deras, deras, deras, gerimis, deras, kira-kira begitu siklusnya. Dan disini, siang ini, deras memaksa saya untuk duduk di kedai kopi, tak bisa kemana-mana.

Ini mungkin terdengar klise dan shallow, tapi saya benar-benar tidak bisa mengelak bahwa kopi dan hujan adalah perpaduan yang manis. Aroma espresso menarik saya untuk berpaling sejenak dari gadget yang sedang menampilkan halaman power point.

Well, I have no idea what’s wrong with my brain, ketika melihat cangkir espresso ini tiba-tiba saya ingat sesuatu and suddenly I get butterflies in my tummyLike… seriously… saya tidak punya maksud apapun duduk di kedai ini selain hanya untuk berteduh dan pinjam wifi. Jam makan siang sudah hampir habis dan hujan masih sangat deras sementara 15 menit lagi berkas power point sudah harus sampai ke e-mail Big Boss. Seharusnya, untuk berfikir greasy pun saya tidak punya waktu. But who cares about that “seharusnya” thing while I just can’t handle those damn butterflies.

So, I ask my brain to forget about my boss and let me think about……… him. Memikirkan bagaimana kemarin malam dia menyeruput kopi hitam kelewat manis dari satu-satunya cangkir kesayangan saya. Lucu, mengingat bagaimana saya melanggar aturan sendiri bahwa tidak ada satupun orang yang boleh minum dari cangkir itu selain saya, even my family. (I don’t ask but they know my habit). Hanya karena tidak ada satupun cangkir bersih yang tersisa kemarin malam, terpaksa saya memakai cangkir itu, for his coffee.

“You have no idea how I cherish that mug so much, dude. And your lips are the second, right after mine. Congratulations,” kataku dalam hati, sambil memperhatikannya minum. Dan ini konyol, saya belum pernah sampai sedetail ini memperhatikan orang minum. Cuma minum!

Saya mengambil espresso panas yang terabaikan dari tadi sambil menatap ke luar kedai. Saya ingat dia pernah bilang, “cara menikmati kopi itu diseruput, bukan diminum.” Lalu sedikit demi sedikit bayangan saat dia bercerita tersusun sangat rapi, serapi caranya bercerita. Sistematis.

Umumnya, ketika seseorang ingin menceritakan masalah A, mereka cenderung hanya akan menceritakan masalah A tersebut tanpa cabang B, C, D, E, lempeng dan lurus aja gitu. Tapi dia tidak, dia akan menceritakan masalah A itu secara bulat dan utuh disertai dengan detail sebab akibat, tanpa menunggu lawan bicaranya bertanya. And I found it interesting.

Selain itu dia juga total. Caranya bercerita itu kayak yang… “Hey, I have some great news and you have to know about this, so please listen to me carefully, cause I won’t repeat it.” Dan benar saja, I listen to him sooooo carefully, even I pay attention to his gesture. Hahaa…

About his joke, I can’t count. Saya tidak bisa menghitung berapa kali saya tertawa saat ngobrol sama dia. He has three kind of joke, from my point of view of course. Pertama, bercandaan yang out of the box. Ini yang sering membuat saya roll on the floor laughing, laugh over loud, ketawa sampe perut keras kaena nggak habis pikir bisa dapet ide ngejoke begituan. Kedua, bercandaan yang out of the frame. Joke yang saking out of the box nya sampai saya harus bertanya dulu sebelum ketawa karena ngga ngerti maksudnya. Entah kenapa joke ini membuat saya terlihat seperti orang bego dengan sense of humor yang cetek. Pada akhirnya sih tetep ketawa meskipun telat karena harus dijelasin dulu. Last adalah joke jayus dan garing dan krik krik krik abis. Ketawa? Enggak lah. Garing ya bilang aja garing.


Eh, wait. What? Sudah berapa lama saya memikirkan dia? Oh darn you butterflies! Get out from my stomach, RIGHT NOW!  Ini sudah jam berapa? Dan saya masih belum beranjak dari halaman power point sementara boss sudah mengirim enam kali PING!!!


---------------------------------------------------
*) Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan tokoh, karakter dan setting ya maafkeun ya... Karena imajinasi ngga bisa dibatasi :D


Sumber gambar: http://www.thiscitylifelondon.com/

Emma Vixel

Tidak ada komentar: